Minggu, 10 Februari 2008

Menggagas Ekonomi Islam di Era Global

( Oleh : Lukman Hakim )

Di negara-negara ASEAN sebenarnya Indonesia sudah cukup tertinggal dalam bidang ekonomi, seperti produktifitas tenaga kerja sebagai ukuran kemajuan suatu bangsa, Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Philipina. Produktifitas tenaga kerja Indonesia yang masih rendah dari negara lain perlu mendapat perhatian yang maksimal. Produktifitas tenaga kerja dipengaruhi oleh pendidikan, etos kerja, disIplin dan motivasi, di samping pengaruh faktor eksternal seperti Industrial Peace.Tahun 2003 kawasan ASEAN sepakat untuk memberlakukan AFTA (ASEAN Free Trade Area ) yang berarti merupakan liberalisasi ekonomi dalam bentuk free market, diperluas 2010 di lingkungan negara maju serta 2020 seluruh kawasan negara-negara APEC ( Asia Pasific Economic Cooperation ). Dengan demikian saat ini ekonomi internsional telah memasuki era global yang tidak mengenal batas, baik ideologi maupun negara.
Di era semacam ini setiap orang, badan hukum atau negara yang bermodal kuat serta merta dapat membuka economic resources whereever they want. Di samping itu ekonomi internasioanl saat ini dipengaruhi oleh negara-negara liberal yang kuat dalam permodalan. Kapitalisme, by it self, membutuhkan " pasar yang luas " tak terkecuali Indonesia sebagai konsekuensi logis dari sistem free market.

Menurut Anwar Sadad dan AF Zamroni dalam tulisannya yang berjudul Konflik Elit dan Kapitalisme Global mengemukakan bahwa Indonesia menjadi penting di mata aktor-aktor kapitalisme global ( baca : AS ) karena dua hal. Pertama, pada era perang dingin terjadi perebutan pengaruh antara AS sebagai blok kapitalis dan Uni Soviet sebagai blok komunis. Dalam perpektif ini peran Indonesia menjadi sangat penting. Panjangnya masa kekuasaan Soeharto, merupakan bagian dari balas budi Amerika atas usaha-usaha yang dilakukan Soeharto menjadikan komunisme sebagai " bahaya laten " bagi bangsa Indonesia. Kampanye anti komunisme dipraktekan dengan cara-cara yang tidak humanis, diajarkan mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Kedua, begitu komunisme runtuh pada tahun 1989 yang ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin di Jerman Timur, sebenarnya tugas Soeharto menjadi "tameng " komunisme Amerika telah selesai. Kepentingan Amerika terhadap negara-negara ketiga tidak lagi untuk menghambat komunisme, melainkan pasar yang sehat bagi produk-produk teknologi yang mereka produksi. Pasar yang sehat hanya akan terwujud apabila ditunjang oleh pemerintahan yang bersih. Maka mulailah diperkenalkan HAM, good government, demokratisasi dan sebagainya. Pemerintahan Orde Baru ( Orba ) yang identik dengan korupsi, kolusi dan nepotisme ( KKN ) tidak lagi kondusif dalam " mengusung " kepentingan Amerika.

Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dan mayoritas muslim memiliki potensi untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan ekonomi, bila dapat memanfatakan situasi ekonomi internasional yang ada saat ini. Situasi ekonomi saat ini sangat bergantung pada permodalan negara-negara besar yang cenderung mengabaikan nilai-nilai keadilan, ekonomi biaya tinggi dan hanya berorientasi pada profit murni. Akibatnya timbullah eksploitasi ekonomi dan pemiskinan secara sistematis oleh negara-negara bermodal kuat terhadap negara miskin dengan "memaksakan " modal melalui lembaga donor internasional seperti IMF dan World Bank. Untuk itulah perlu adanya konsep ilmu ekonomi Islam yang nantinya diharapkan dapat bersaing secara kuat dengan ilmu ekonomi moderen. Partisipasi pengembangan dari sejumlah perorangan, universitas, pemerintahan dan organisasi riset yang relatif masih sangat kecil, karena sebagian besar negeri muslim cenderung kurang memberikan dukungan moral atau materi guna pengembangan ilmu sosial Islam harus segera diubah.

Kemudian untuk mewujudkan ekonomi Islam yang kuat minimal perlu adanya empat pendekatan sebagaimana yang disampaikan oleh Abdullah Hanif lewat tulisannya Islam dan Ekonomi Global.


  1. Pendekatan keyakinan.Setiap muslim yang telah beriman akan berserah diri dan patuh pada ajaran Alloh dan akan diimplementasikan dalam ketaqwaan kepada Alloh dalam kehidupan sehari-hari. Di bidang ekonomi mereka akan merujuk pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh Alloh. Implementasinya, setiap aktifitas ekonomi tersebut diperuntukan pada kesejahteraan sesama manusia.
  2. Pendekatan ibadah.Setiap kegiatan ekonomi harus diintegrasikan dengan nilai-nilai ibadah kepada Alloh. Pada hakekatnya seluruh kekayaan di muka bumi ini milik Alloh. Manusia hanya diberi amanat, hak pengelolaan dan hak pengembangannya demi kesejahteraan umat manausia secara keseluruhan. Sehingga sangat logis bila manusia diperintahkan untuk menafkahkan sebagian rizki yang diterimanya sebagai bagian implementasi ketaatan dan ketundukan atau ibadah kepada Alloh.
  3. Pendekatan sosial kemasyarakatan ( muamalah ).Sebagai bagain muamalah kegiatan ekonomi dapat dikategorikan sebagai hubungan duniawiyah antar manusia yang dapat diatur sendiri oleh mereka dengan senantiasa mengacu pada rambu-rambu ( Ushul Fiqhiyah ) yang telah ditetapkan. Adanya rambu-rambu agama inilah yang membedakan ekonomi Islam dengan ekonomi lainnya, seperti ekonomi kapitalis dan ekonomi liberal yang digerakkan oleh kepentingan profit semata.
  4. Pendekatan moral.Aktifitas ekonomi umat Islam harus terkontrol oleh akhlaq terpuji, tidak dipenuhi oleh hawa nafsu, keserakahan dan kekikiran ( QS. 2 : 168 ). Aktifitas ekonomi yang diharapkan adalah aktifitas yang berkeadilan dan efisien.

KESIMPULAN
Melihat realitas ekonomi internasional saat ini maka dapat ditarik beberapa asumsi tentang sistem ekonomi internasional. Pertama, dipengaruhi oleh pemilik modal kuat, Kedua, bersendikan profit murni, Ketiga, adanya eksploitasi berlebihan dari si kaya terhadap si miskin, Keempat, tipisnya komitmen kesejahteraan secara menyeluruh.

Berdasarkan asumsi tersebut Islam dapat berperan aktif dalam aktifitas ekonomi internasional. Untuk itu ada beberapa langkah yang harus ditempuh. Pertama, merumuskan sistem ekonomi Islam yang benar-benar dapat memenuhi kebutuhan kekinian seperti perbankan, asuransi, persekutuan modal investasi dan sebagainya. Kedua, sosialisasi rumusan sistem ekonomi Islam tersebut. Ketiga, memperluas jaringan kerja sama terutama ke negara-negara yang berpenduduk muslim.

Dengan demikian ekonom Islam harus memiliki kemampuan untuk memformulasi sistem ekonomi Islam, yang bertujuan pada penciptaan kesejahteraan umum yang bersendikan pada keadilan sosial, syari'at (religi) dan ekonomi biaya rendah (efisiensi). Sehingga pada akhirnya nanti menghasilkan ilmu ekonomi Islam yang dapat bersaing secara kuat dengan ilmu ekonomi moderen dan melahirkan human resource yang diharapkan bisa tetap survive di era ekonomi global.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Tim Perumus Fakultas Teknik UMJ : Al-Islam dan Iptek, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada.
  2. Anwar Sadad dan AF Zamroni : Konflik Elit dan Kapitalisme Global, AULA No. 03/Tahun XXIII Maret 2001.
  3. Abdullah Hanif : Islama dan Ekonomi Global, Rindang No. 4 Th. XXVII Nopember 2001.

Sejarah Peradaban Islam

( Oleh : Lukman Hakim )

Sejarah peradaban Islam banyak dipengaruhi oleh :
Pengaruh kebudayaan Arab, yaitu : Timur Tengah, Andalusia dan Afrika Utara.
Pengaruh kebudayaan Arab Persia, yaitu : Iran, Iraq dan Asia Tengah.
Pengaruh kebudayaan Turki, yaitu : Uzbekistan, Tajikistan.
Pengaruh kebudayaan India Islam , yaitu : Bangladesh, Pakistan dan Asia Tenggara.

2 kekuatan Arab sebelum Islam adalah :


  • Bani Umayyah : Banyak menguasai jabatan politik dan ekonomi.
  • Bani Hasyim dan Bani Abu Thalib : Manguasai fungsi keagamaan.

Sebab orang Makkah menolak ajaran Nabi saw :
- Tidak bisa membedakan kenabian dan kepemimpinan.
- Mengikuti ajaran nenek moyang mereka.
- Takut menyaksikan hari pembalasan (eskatologi).
- Para pembuat patung khawatir kehilangan nafkah.
- Nabi saw mengajarkan persamaan.

KONSEP KHOLIFAH
Abu Bakar dijuluki Kholifatu Rosulillah : Pengganti Nabi Muhammad saw yang kapasitasnya bukan sebagai Nabi tapi pemimpin umat. Umar bin Khattab dijuluki Kholifatu Kholifati Rosulillah : Kholifahnya Kholifatu Rosulillah. Pada masa bani Umayyah Muawiyah bin Abu Sufyan menamakan diri Kholifatulloh : Penguasa yang diangkat oleh Alloh. Dalam berpolitik bani Umayyah menganut Jabariyah : Selalu mencari kebenaran apa yang dilakukan adalah atas perintah/kehendak Tuhan. Sementara kaum oposan yang dipelopri oleh Khawarij dan Syi'ah menganut Qodariyah : sebagai perlawanan terhadap bani Umayyah umat harus merubah sendiri nasibnya.Perbedaan besar antara Khulafaur Rosyidin dengan bani Umayyah adalah : cara pengangkatan kholifah yaitu bani Umayyah monarki mengikuti Persia dan Byzantium sedangkan Khulafaur Rosdyidin demokrasi (kepemimpinan diserahkan dan dipilih oleh umat)Khailfah-khalifah besar bani Umayyah adalah :

  1. Muawiyah bin Abu Sufyan (661-680 M.) Wilayah kekuasaan : Khurasan - sungai Oxus, Afghanistan - Kabul dan Konstatinopel. Jasa-jasanya : a. Mendirikan dinas pos ditempat-tempat tertentu. b. Mencetak mata uang dan menertibkan angkatan bersenjata. c. Hakim menjadi profesi tersdendiri.
  2. Abdul Malik bin Marwan (685-705 M.) Wilayah kekuasaan : sebelah timur menyeberang sungai Oxus - Bukhara, Samarkand, Khawarizm, Balkh dan India. Jasa-jasanya : At-Ta'rib (Pengaraban) yaitu : Bahasa Arab tidak hanya sebagai bahasa komunikasi tapi juga bahasa administrasi pemerintah.
  3. Al-Walid bin Abdul Malik (705-715 M.). Wilayak kekuasaan : sebelah barat Afrika Utara - benua Eropa seperti : Maroko, Spanyol. Kordova, Seville dan Toledo. Jasa-jasanya : Lebih menekankan pada bangunan fisik seperti panti orang cacat, jalan raya, pabrik-pabrik, gedung pemerintahan dan masjid-masjid megah. Pada masa ini Islam mendapatkan ketentraman., kemakmuran, ketertiban dan kebahagiaan serta memperoleh kemenangan dengan mudah karena mendapat dukungan masyarakat setempat yang sudah lama menderita akibat kekejaman penguasa.
  4. Umar bin Abdul Aziz (717-720 M.). Jasa-jasanya : Mengadakan ekspansi ke Prancis , dapat menjalin hubungan baik dengan golongan oposisi contoh : Syi'ah dengan cara memberikan kebebasan beragama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan, pajak diperingan dan kedududukan mawali disejajarkan dengan muslim Arab.

Faktor kehancuran bani Umayyah :

  • Pergantian Kholifah dari demokratis ke monarki sehingga terjadi persaingan tidak sehat di kalangan anggota istana.
  • Latar belakang terbentuknya bani Umayyah tidak lepas dari konflik politik sehingga penumpasan terhadap gerakan oposisi banyak menyedot perhatian dan kekuatan pemerintah.
  • Makin meruncingnya pertentangan etnis antara Arab Utara dan Arab Selatan.
  • Sikap hidup mewah di kalangan istana.
  • Munculnya gerakan baru dari keturunan bani Abbas bin Abdul Muthalib yang didukung bani Hasyim, Syi'ah dan kaum Mawali.

BANI ABBASIYAH
Pendiri : Abdullah As-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Al-Abbas. Pada masa Abu Ja'far Al-Mansur pengertian kholifah menjadi Innama Ana Sulthonulloh Fil Ardhi (Sesungguhnya saya adalah kekuasaan tuhan di bumi-Nya), yang berarti kholifah merupakan mandat dari Alloh bukan dari manusia dan bukan sekedar pelanjut Nabi, serta suka pakai gelar tahta. Puncak kejayaan pada masa kholifah Harun Ar-Rasyid (786-809 M.) dan Al-Ma'mun (813-833 M.) yaitu : Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan kesusasteraan berada pada masa keemasannya. Al-Ma'mun mengadakan penerjemahan buku-buku asing, banyak mendirikan sekolah dan karya terbesarnya adalah Baet Al-Hikmah dan menjadikan Baghdad pusat kebudayaan dan ilmu pengetahua.

Perbedaaan bani Abbasiyah dan bani Umayyah adalah :

  1. Bani Abbas lebih menekankan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam dari pada perluasan wilayah.
  2. Baghdad sebagai ibu kota bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab.
    Kepala departemen dipegang oleh wazir.
  3. Terbentuknya tentara yang profesional.

Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan pada masa ini dipengaruhi oleh :
Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa lain yang sudah mengalami perkembangan ilmu pengetahuan.
Adanya gerakan penerjemahan sehingga berpengaruh dalam perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, kimia, sejarah dan lahirnya pemikir-pemikir Islam seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Al-Rozi dan lain-lain serta munculnya imam-imam Madzhab.

MASA DISINTEGRASI (1000-1250)
Sebab-sebab :
Persaingan antara golongan Arab yang mendukung Al-Amin dan golongan Persia yang mendukung Al-Ma'mun.
Konflik yang terjadi antara Arab Utara dengan Arab Selatan, kemudian Arab dengan Persia dan Arab serta Persia melawan Turki.

Alasan dinasti memisahkan diri dari Baghdad :
Khailfah bani Abbas tidak cukup kuat untuk membuat para gubernur tunduk pada Baghdad.
Penguasa bani Abbas lebih menitikberartkan pada pembinaan peradaban dan kebudayaan dari pada politik dan ekspansi.

Cara yang ditempuh pemberontak :
Seorang pemimpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan memperoleh kemerdekaan penuh. Contoh : Daulah Umayyah di Spanyol.
Kedudukan gubernur yang semakin kuat menyebabkan mereka berani menentang kebijakan Baghdad.

Penyebab kemunduran bani Abbas pada periode pertama :

  1. Sulitnya komunikasi antara pusat dan daerah karena luasnya wilayah dan tingkat kepercayaan terhadap pemerintah rendah.
  2. Ketergantungan kholifah terhadap militer sangat tinggi.
    Kondisi keuangan tidak mampu untuk membayar tentara bayaran.
  3. Pada masa bani Abbas tidak ada usaha untuk merebut jabatan kholifah tapi yang ada hanya usaha untuk merebut kekuasaan karena kholifah dianggap jabatan sakral.
  4. Setelah Turki merebut keuasaan tersebut, kholifah bagaikan boneka yang dapat dipilih dan dijatuhkan sesuai dengan keinginan politik mereka. Dan setelah itu bani Abbas dikuasai oleh bani Buwaih yang tidak bertahan lama dikarenakan semakin banyaknya dinasti kecil yang memisahkan diri dari Baghdad dan serangan-serangan ke dunia Islam.

PERANG SALIB

  1. Periode Pertama. Eropa menang menguasai Nicea, Baetul Maqdis, Tripoli dan mendirikan kerajaan di wilayah-wilyah tersebut. Pimpinan : Raymond, Godfrey dan Bahemand.
  2. Periode Kedua. Shalahudin Al-Ayyubi berhasil merebut Yerusalem dan mendirikan dinasti Ayyubiyah. Pimpinan Kristen : Philip Augustus (Prancis), Richard The Lion Heart (Inggris) dan Frederick Barbarosa (Jerman). Pada periode ini terjadi perjanjian Sulh Al-Ramlah yaitu : Orang Kristen yang berziarah ke Baitul Maqdis tidak akan diganggu.
  3. Periode Ketiga. Malik Al-Kamil membuat perjanjian dengan Frederick yaitu : Malik Al-Kamil melepas Palestina sedang Frederick melepas Dimyat, menjamin keamanan non Muslim di Palestina dan tidak mengirim bantuan pada Kristen di Syria.

Sebab kemunduran bani Abbas pada akhir pemerintahan :

  • Persaingan antar bangsa dengan timbulnya Chaovanisme/Syu'ubiyyah (kebangsaan).
  • Kemerosotan ekonomi dikarenakan pajak berkurang dan wilayahnya semakin sempit.
  • Konfilk keagamaan antara Asy'ariyah dan Syi'ah.
  • Ancaman dari luar yaitu perang salib dan penyerbuan tentara Mongol.

ISLAM DI ANDALUSIA/SPANYOL (Awal abad VII, 7,5 abad)
Penakluk Spanyol : Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair.Faktor kemengan Islam :
Eksternal : Keadaan sosial, ekonomi dan politik di Spanyol parah dan Islam memberikan kebebasan beragama disambut gembira orang Yahudi yug sebelumnya tertindas.
Internal : Persatuan, kekompakan, keberanian dan kepercayaan diri serta tabah dalam menghadapi persoalan menambah kekuatan Islam dan toleransi yang diberikan penguasa Islam. Contoh : tidak ada inquisition.

Perkembangan Islam di Spanyol :

  1. Periode pertama (711-755 M.). Stabilitas politik belum kuat, teradpat konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar sehingga periode ini belum ada pembangunan peradaban dan kebudayaan. Berakhir dengan datangnya Abdurrahman Ad-Dakhil.
  2. Periode kedua (755-912 M.). Islam mencapai kemajuan dalam bidang politik dan peradaban. Contoh : didirikannya masjid di Cordova, sekolah-sekolah pembaharuan militer, pembinaan hukum Islam dan kebebasan agama.Kemudian konflik internal mulai muncul.
  3. Periode ketiga (912-1013 M.). Berlangsung dari Abdurrahman III bergelar An-Nasir sampai raja-raja kelompok (mulukut thowaif). Islam mencapai puncak kejayaan dan kemajuan menyaingi kejayaan bani Abbasiyah di Baghdad seperti didirikannya universitas Cordova, perpustakaan dengan koleksi ratusan ribu, pembangunan kota berlangsung cepat sehingga masyarakat mendapat kesejahteraan dan kemakmuran. Akhir periode ini Islam mulai mengalami kemunduran karena konflik politik.
  4. Periode keempat (1013-1086 M.). Spanyol sudah terpecah belah di bawah pimpinan mulukut thowaif dan kehidupan politik tidak stabil tapi kehidupan intelektual terus berkembang
  5. Periode kelima (1086-1248 M.). Spanyol didominasi kekuatan dinasti Murabithun dan dinasti Muwahidun berasal dari Afrika Utara dengan merebut Cordova, Granada dan Armenia. Tapi tidak bertahan lama dan akhirmnya seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.
  6. Periode keenam (1248-1492 M.). Berakhirnya kekuasan Islam di Spanyol yang hanya berpusat di Granada akibat konflik politik dan perebutan kekuasaan yang melibatkan penguasa Kristen yaitu : Ferdinand dan Isabella. Kemajuan Peradaban Islam di SpanyolIntelektual yaitu : Filsafat, Science, Fiqih, Bahasa dan sastra.Kemegahan bangunan fisik. Contoh : Pembangunan istana, masjid Cordova, taman-taman dan lain-lain.

Faktor Pendukung kemajuan peradaban Islam :
Toleransi beragama di tegakkan oleh para pengusa terhadap penganut Kristen dan Yahudi.
Meskipun ada persaingan antara Abbasiyah di Baghdad dan Umayyah di Spanyol, hubungan budaya dari Timur dan Barat tidak selalu berupa peperangan.
Perpecahan politik tidak menyebabkan mundurnya peradaban.

Faktor kemunduran dan kehancuran :
- Konflik Islam dengan Kristen
- Tidak ada ideologi pemersatu
- Kesulitan ekonomi
- Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan.
- Keterpencilan Islam di Spanyol karena berjuang sendirian.

Pengaruh peradaban Islam Spanyol yaitu : Spanyol mengalami kemajuan dalam bidang pemikiran, science dan pembangunan fisik jauh meninggalkan negara-negara Eropa lainnya. Pengaruh pemikir-pemikir Muslim seperti Ibnu Rusydi melahirkan gerakan Averoeisme yang menuntut kebebasan berfikir sehingga membangkitkan kembali Rennaisance dan menyebabkan berkembangnya pemikiran filsafat Yunani di Eropa.

MASA KEMUNDURAN (1250 - 1500 M)
Diawali dengan jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol pimpinan Hulagu Khan dengan menghancurkan perdaban dan kebudayaan serta khasanah ilmu pengetahuan di Baghdad. Setelah itu Hulagu Khan memantapkan kekuasaanya di Baghdad selama 2 tahun sebelum melanjutkan gerakan ke Syria dan Mesir. Baghdad dan darah-daerah yang ditaklukan Hulagu Khan diperintah dinasti Ilkhan. Hanya pada masa Mahmud Ghozan (1295-1304 M) yang memperhatikan peradaban dan kebudayaan seperti membangun perguruan tinggi Madzhab Syafi'i dan Hanafi, Observatorium dan gedung-gedung umum lainnya.

Setelah Islam berusaha bangkit dari kehancuran serangan Mongol, serangan datang lagi dari keturunan Mongol Jengis Khan pimpinan Timur Lenk (Timur si Pincang). Timur Lenk berusaha mewujudkan ambisinya menjadi penguasa besar dengan menaklukan daerah-daerah yang pernah dikuasi Jengis Khan.Kemudian memperluas wilayahnya ke Afghanistan, Persia, Kurdistan, Syria, Moskow sampai India. Di setiap negeri yang ditaklukan ia membantai penduduk yang melakukan perlawanan. Contoh : membuat piramida dengan kepala mayat -mayat sebagai tanda kemenangan, menyusun menara dari tubuh-tubuh yang dipisah dari kepala.

Sekalipun terkenal kejam dan ganas sebagai Muslim Timur Lenk tetap memperhatikan pengembangan Islam dengan mendirikan masjid di beberapa wilayah yang ditaklukannya, selalu membawa ulama, satrawan dan seniman dalam perjalanannya. Samarkand dijadikan pasar Internasional dan membuka rute-rute perdagangan baru antara India dan Persia, bahkan konon ia penganut Syi'ah yang taat dan pengikut tarekat Naqsabandiyah.Satu-satunya negeri Islam yang selamat dari srangan Mongol adalah Mesir yang dikuasai dinasti Mamalik. Dinasti Mamalik didirikan para budak (mamluk) yang ditawan kemudian dididik dan dijadikan tentara Ayyubiyah. Pemerintahan mamalik bersifat Oligarki militer yang banyak mendatangkan kemajuan Mesir. Para Amir berkompetisi dalam prestasi karena mereka adalah kandidat sultan.

Kemajuan-kemajuan yang dicapai antara lain :

  1. Bidang pemerintahan berhasil mengalahkan Mongol di 'Ayn yang menjadi modal besar menguasai daerah-daerah sekitarnya.
  2. Bidang ekonomi membuka hubungan dagang dengan Prancis dan Italia, serta membangun jaringan transportasi dan komunikasi antar kota baik darat maupun laut.
  3. Bidang ilmu pengetahuan, Mesir jadi pelarian ilmuwan-ilmuwan Baghdad dari serangan Mongol sehingga ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir. Contoh : Dalam bidang keagaman muncul Ibnu Taimiyah, As-Sayuthi dan lain-lain. Ilmu sejarah : Ibnu Khladun. Ilmu Kedokteran : Ar-Rozi (perintis psiko terapi ) dan lain-lain.

Faktor pendukung kemajuan : Kepribadian dan wibawa sultan yang tinggi, solidaritas sesama militer yang kuat dan stabilitas negara yang aman dari gangguan.

Urgensi Hijrah

( Oleh : Lukman Hakim )

PENDAHULUAN
Pada permulaan Islam, kaum Quraisy belumlah mencurahkan perhatiannya untuk menentang agama Islam, mereka mengira bahwa seruan Muhammad itu hanya suatu gerakan yang tidak berapa lama tentu akan lemah dan lenyap dengan sendirinya. Akan tetapi alangkah terkejutnya mereka melihat bahwa seruan itu dengan cepat telah memasuki lingkungan keluarga mereka dan bahkan hamba sahaya mereka yang dahulunya mereka anggap derajatnya tidak lebih dari harta benda.Oleh karena itu dengan cepat mereka mengadakan penentangan dan perlawanan terhadap ajaran Rosul saw dengan cara menyiksa dan menyakiti para pengikut Rosul saw. Dengan kondisi seperti ini Rosul saw mulai memikirkan umatnya agar terlepas dari siksaan orang-orang Quraisy, yakni dengan cara memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman atau dengan kata lain berhijrah. Mengenai hijrah inilah yang akan dibahas penulis pada poin berikut.

LATAR BELAKANG HIJRAH
Penganiayaan yang dialami Rosul saw di Makkah dan pertentangan yang gigih terhadapnya menyebabkan Rosul saw harus mengubah strategi da'wah beliau. Ketika beliau merasa yakin bahwa kaum Quraisy tidak akan mau menundukan kepala mereka kepada Alloh swt, Rosul saw menyampaikan ajarannya kepada para peziarah dan pedagang dari kota Yatsrib yang melaksanakan ibadah haji ke Makkah.
Di antara mereka ada yang langsung memeluk Islam karena terkesan oleh kesungguhan dan kebenaran Rosul saw. Kemudian mereka melakukan sumpah resmi untuk menyembah tuhan Alloh swt dan melaksanakan perintah-Nya serta patuh kepada Rosul saw dalam segala hal yang baik. Janji ini dikenal dalam sejarah Islam sebagai Perjanjian Aqobah Pertama.Penembusan Islam secara damai melalui hubungan diplomatik Rosul saw dengan para peziarah dan pedagang yang merupakan anggota dari berbagai suku Madinah itu besar sekali artinya bagi pertumbuhan dan perkembangan Islam, karena sekurang-kurangnya beberapa anggota dari berbagai suku Madinah masuk Islam.
Pada tahun 622 M orang-orang Yatsrib yang telah masuk Islam datang kembali ke Makkah untuk mengundang Rosul saw ke kota mereka dan mereka mengambil sumpah bahwa mereka akan melindungi Rosul saw dan agamanya dari bahaya apapun. Janji inilah yang kemudian dikenal dengan Perjanjian Aqobah Kedua. Ketika kaum Quraisy mendengar hal tersebut mereka merencanakan untuk membunuh Rosul saw. Sebab-sebab utama yang membuat Rosul saw berhijrah antara lain :


  • Perbedaan iklim kedua kota itu mempercepat dilakukannya hijrah. Iklim Madinah yang lembut dan watak masyarakat yang ramah sangat mendorong penyebaran dan pengembangan ajaran Islam lebih baik. Sebaliknya kota Makkah tidak mempunyai kemudahan seperti ini.
  • Nabi-nabi pada umumnya tidak dihormati di negeri mereka. Nabi Muhammad saw juga tidak diterima oleh kaumnya sendiri tapi beliau diakui sebagai Nabi Alloh swt oleh orang-orang Madinah, dan beliau sungguh-sungguh diminta untuk datang ke kota mereka, lalu Rosul saw mengabulkannya.
  • Golongan pendeta dan bangsawan Quraisy Makkah sangat menentang ajaran yang di bawa Rosul saw.
  • Orang-orang Madinah mengundang Rosul saw dengan harapan bahwa melalui pengaruh pribadi serta nasehat Rosul saw, perang yang berkepanjangan antara suku Aus dan Khazraj, yang hampir melumpuhkan kehidupan yang normal dari orang-orang Madinah akan berakhir.

HIJRAH
Kata hijrah berasal dari kata hajara yang berarti pindah atau meninggalkan tempat yang lama menuju ke tempat yang baru, baik secara fisik seperti pindah tempat tinggal, tempat usaha maupun sikap batin seperti pindah aqidah atau pandangan politik. Hijrah pertama kaum Muslimin adalah ke Habsyi atau Ethiopia, dan itu merupakan peristiwa perpindahan penduduk pertama di dunia dengan alasan agama. Hijrah ini terjadi pada bulan Rajab tahun ke-5 sesudah kenabian Muhammad saw. Hal itu bukan karena mereka diusir oleh musuh, tapi karena disiksa di negeri mereka sendiri. Kaum kafir Quraisy tidak menginginkan mereka pergi tapi yang diinginkan adalah hapusnya ajaran Islam dan musnahnya umat penganut ajaran Islam.

Pemilihan negeri Habsyi sebagai tempat hijrah karena menurut pemikiran Rosul saw penguasa di sana seorang penganut agama Nashrani yang santun dan suka menjalin silaturrahmi. Terdapat dua kali gelombang hujrah ke Habsyi. Gelombang Pertama, hanya dilakukan oleh 15 orang saja, terdiri dari 11 orang laki-laki dan 4 orang perempuan. Malihat makin sengitnya tekanan dan siksaan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin, gerakan hijrah ke Habsyi semakin besar, sehingga terjadi hijrah gelombang kedua, dengan jumlah sekitar 100 orang.

Ada tiga peristiwa penting pada periode hijrah ke Habsyi. Pertama, kembalinya Muhajirin gelombang pertama ke Makkah karena mereka mendapat berita bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Kattab telah masuk Islam sehingga orang kafir Quraisy tidak lagi berani menindas dan menyiksa kaum Muslimin, dan di Habsyi sendiri terjadi sedikit pergolakan karena pertentangan etnis. Kedua, kehadiran delegasi kafir Quraisy yang di pimpin oleh Amru bin 'Ash kepada raja Najasyi untuk memohon agar raja menolak ijin tinggal kaum Muslimin dan mengembalikannya ke Makkah, tapi permohonan itu ditolak. Ketiga, Peristiwa pernikahan Rosul saw Ramlah binti Abu Sufyan bin Harb yang kehadiran dan ucapan ijab qobul Rosul saw diwakili oleh raja Najasyi yang telah masuk Islam. Kemudian setelah Perjanjian Aqobah Kedua, Terjadi hijrah lagi yang diawali dengan hijrahnya kaum Muslimin secara berangsur-angsur ke Yatsrib hingga akhirnya tinggal Rosul saw, Abu Bakar dan Ali bin Abu Thalib yang tetap tinggal di Makkah.

Setalah orang-orang kafir Quraisy mengetahui para shahabat Rosul saw pergi meninggalkan Makkah dengan memboyong keluarga, anak-anak dan harta benda mereka untuk hijrah ke Yatsrib, kekhawatiran dan kegundahan menghantui orang-orang kafir Quraisy. Mereka tahu persis bagaimana kepribadian Muhammad saw yang sangat handal dalam mempengaruhi orang lain, di samping kredibilitas kepemimpinan dan kesempurnaan bimbingannya. Sementara para shahabatnya juga memiliki semangat membara, tunduk dan siap berkorban membela beliau.Untuk itu pada hari Kamis tanggal 26 Shafar tahun 14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M atau kira-kira selang dua bulan setengah setelah Baeat Aqobah Kedua, diadakan pertemuan yang dihadiri para wakil dari setiap kabilah Quraisy di Darun Nadwah. Pertemuan itu bertujuan untuk mengkaji langkah yang paling jitu untuk menghabisi Rosul saw.

Sebelum hijrah Rosul saw menemui dan mengajak Abu Bakar agara menyertainya dalam hijrah. Setelah merancang langkah-langkah untuk hijrah, maka beliau kembali ke rumahnya menunggu datangnya malam. Siang itu para pemuka Quraisy membuat persiapan untuk melaksanakan rencana yang sudah ditetapkan di Darun Nadwah yaitu dengan membunuh Rosul saw. Seperti yang sudah dirancang, rencana jahat itu akan dilaksanakan pada tengah malam. Maka dari itu mereka terus berjaga dan menunggu saat yang sudah ditentukan.Sekalipun orang-orang Quraisy telah mempersiapkan secara matang untuk melaksnakan rencana mereka, tetap saja mereka gagal toatal. Pada saat-saat yang kritis itu Rosul saw memerintahkan Ali bin Abu Thalib untuk tidur di tempat tidur beliau. Kemudian Rosul saw pergi ke rumah Abu Bakar dan mereka berdua keluar dari rumah Abu Bakar pada tengah malam hingga tiba di gua Tsaur. Selama 3 hari Rosul saw dan Abu Bakar bermalam di gua tersebut.Pada hari Senin tanggal 8 Robi'ul Awwal tahun ke -14 dari kenabian, bertepatan dengan tanggal 23 September 622 M Rosul saw tiba di Quba'. Beliau berada di Quba selama 4 hari dan mendirikan temat ibadah di sana.

Sementara itu Ali bin Abu Thalib berada di Makkah selama 3 hari, untuk menyelesaikan urusan Rosul saw dengan beberapa orang seperti yang dipesankan beliau. Setelah itu dia berhijrah ke Yatsrib dengan cara berjalan kaki, hingga bertemu Rosul saw di Quba'. Pada hari Jum'at beliau melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib. Sholat Jum'at dilaksanakan di Bani Salim binAuf. Seusai sholat Jum'at Rosul saw memasuki Yatsrib. Sejak itulah Yatsrib dinamakan Madinatur Rosul.

HIKMAH HIJRAH
Ada beberapa catatan penting yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah Rosul saw baik ke Habsyi atau Ethiopia maupun yang ke Madinah, antara lain :
Terjalin Ukhuwah Islamiyah antara kaum Muhajirin, yaitu para shahabat yang sejak di Makkah telah membantu Rosul saw dalam memperjuangkan tegaknya ajaran Islam serta mengikuti Rosul saw hijrah ke Madinah, dan kaum Anshar yaitu kaum Muslimin Madinah yang menyambut kedatangan Rosul saw serta rombongan Muhajirin lainnya, dan merupakan gelar yang diberikan Rosul saw kepada orang Madinah yang beriman sebagai penghormatan kepada mereka.

Dalam kerangka persatuan adanya penghormatan terhadap pluralitas dan perbedaan antar etnis, bangsa, peradaban dan lain-lain. Dengan demikian akan terjadi rasa bangga terhadap kekhasan dan keutamaan yang di miliki tanpa mengingkari kekhasan dan kelebihan yang lain.
Diterimanya Rosul saw sebagai penengah di antara golongan-golongan yang bermusuhan di Madinah menunjukan kepercayaan yang besar dari penduduk Madinah terhadap pribadi Rosul saw.Demikianlah beberapa hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa hijrah Rosul saw, di samping masih ada banyak kemungkinan hikmah yang bisa di dapat selain tersebut di atas. Seperti kesetiakawanan, jihad fi sabilillah, amanah dan lain-lain.

PENUTUP
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa setelah da'wah Rosul saw di Makkah mendapat tantangan dan perlawanan yang keras dari kaum kafir Quraisy, Untuk itu Rosul saw mengubah strategi da'wahnya dengan cara berhijrah ke tempat yang lebih memungkinkan da'wah beliau diterima masyarakat. Hijrah Rosul saw pertama kali ke Habsyi atau Ethiopia kemudian hijrah berikutnya ke Yatsrib yang kemudian oleh Rosul saw disebut Madinatur Rosul.Beberapa hikmah yang dapat diambil dari peristiwa hijrah antara lain :

  1. Terjalin Ukhuwah Islamiyah.
  2. Adanya penghormatan terhadap pluralitas.
  3. Kepercayaan yang besar dari penduduk Madinah terhadap kepribadian Rosul saw.