Rabu, 30 Januari 2008

Program ASI Eksklusif Hingga Bayi Enam Bulan

"Coba yang ini saja Bu, kandungannya lengkap, ada AA dan DHA untuk perkembangan otak, 15 vitamin dan mineral, serta FOS yang berguna membantu pencernaan. Rasanya juga disesuaikan dengan bayi ibu yang baru mau belajar makan makanan padat. Dapat ibu lihat di label, cocok untuk bayi usia 4 bulan ke atas,'' ujar seorang SPG (sales promotion girl) pada seorang ibu di counter susu dan makanan bayi sebuah supermarket. Sembari membacakan label yang tertera pada sebuah kardus biskuit bayi, SPG tersebut terus memberikan keterangan mengenai keunggulan produk yang ditawarkannya, berusaha menggaet calon konsumennya. Si calon konsumen, Yanti, seorang ibu muda dari seorang bayi mungil berusia empat bulan, tampak memerhatikan keterangan SPG dengan serius. Sesekali ia bertanya kepada SPG mengenai produk yang akan dibelinya. Akhirnya, dua kotak biskuit bayi masuk ke keranjang belanjanya.
Pemandangan semacam itu dapat dengan mudah dijumpai di berbagai sentra penjualan susu dan makanan bayi. Si konsumen, ibu tadi, tidak menyadari telah melakukan sebuah kekeliruan dalam menangani tumbuh kembang anaknya. Bayinya yang berusia empat bulan semestinya masih dalam program ASI (air susu ibu) eksklusif. Sebuah program terbaik untuk tumbuh kembang seorang bayi, yakni hanya memberikan ASI saja hingga bayi berusia enam bulan.

Namun, kekeliruan Yanti tidak semata-mata karena kesalahannya, bisa dikatakan ia adalah korban dari 'kenakalan' produsen makanan pendamping ASI. Pada kardus biskuit bayi yang ia beli tertera tulisan 'untuk usia 4 bulan ke atas'. Sebuah tulisan yang semestinya tidak tertera karena menyesatkan konsumen. Semestinya, mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 450/2004, bayi harus diberi ASI saja hingga usia enam bulan, bukan empat bulan.

Berbagai penelitian telah membuktikan berbagai keunggulan tak terbantahkan mengenai manfaat pemberian ASI eksklusif selama enam bulan. Mulai dari pertumbuhan fisik yang sempurna, perkembangan kecerdasan yang pesat, hingga kematangan emosional seorang anak, terpacu berkat ASI eksklusif enam bulan.
Sayangnya, peraturan tinggal peraturan. Produsen susu dan makanan pendamping ASI yang semestinya turut berperan serta dalam program yang notabene bisa menyehatkan generasi penerus, justru banyak yang melakukan penyimpangan. Pencantuman label 'untuk bayi usia empat bulan ke atas' adalah salah satu contohnya.

Pada pertemuan di 'Executive Forum' yang diadakan Media Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu, terungkap bahwa mayoritas produsen susu dan makanan pendamping ASI memang belum semuanya mengacu pada peraturan mengenai ASI eksklusif enam bulan. ''Hal tersebut terjadi karena peraturan. Sebagian besar produsen masih berpegang pada peraturan lama saat batasan ASI eksklusif adalah empat bulan. Dan hingga saat ini izin yang mereka pegang masih berlaku, jadi belum ada pembaharuan, tidak ada sanksi tegas terhadap hal ini,'' ujar Sekretaris Ikatan Produsen Susu (IPS), Syahlan Siregar, dalam forum tersebut.

Pencantuman label 'untuk bayi usia 4 bulan ke atas', hanyalah salah satu contoh dari berbagai tindakan produsen susu yang tidak mendukung program ASI eksklusif enam bulan. Seperti diungkapkan dr Nurcholish Madjid, M.Kes dari Program Appropriate Technology in Health (PATH), dari penelitian yang diselenggarakan lembaganya diketahui berbagai 'kenakalan' produsen susu formula dan makanan pendamping bayi. ''Di antaranya, melakukan promosi dalam berbagai bentuk kepada sarana kesehatan serta tenaga kesehatan, baik dokter maupun bidan, untuk turut serta memasarkan produk mereka. Ada yang diberi insentif bulanan hingga ada yang disponsori untuk naik haji,'' ujar dr Nurcholish yang bersama lembaganya melakukan penelitian tentang perilaku pemberian ASI pada masyarakat di daerah Cirebon, Cianjur, Kediri, dan Blitar pada tahun 2003.

Diakui Syahlan, perilaku-perilaku tersebut memang kerap terjadi. Satu hal yang menjadi penyebabnya adalah lemahnya peraturan. Padahal, menurutnya, produsen IPS yang beranggotakan sembilan produsen di antaranya Nestle dan Frissian Flag, bisa dipastikan akan mematuhi semua peraturan yang memiliki kejelasan di sisi materi maupun sanksinya.
Mengenai peraturan mengenai ASI eksklusif, diakui salah satu anggota Komisi IX DPR RI Tuti Indarsih Lukman, saat ini memang mendesak untuk diberlakukan dan meliputi berbagai kalangan. Pasalnya, produsen susu formula dan makanan pendamping ASI bukanlah satu-satunya penyebab sulitnya menjalankan program ASI eksklusif. Beberapa hal lain seperti peraturan ketenagakerjaan mengenai cuti melahirkan dan keberadaan ruang ASI di tempat kerja, serta juga perlu dibuatkan aturan agar mendukung program ASI eksklusif enam bulan tersebut.

Pihak DPR, lanjut Tuti, yang saat ini tengah melakukan pembahasan tentang perubahan UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, juga akan berusaha memasukkan masalah ASI dalam perubahannya. ''Kami juga memantau pihak-pihak terkait seperti Departemen Kesehatan, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) serta BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) agar membuat program dan peraturan yang mendukung ASI eksklusif,'' ujar Tuti.

Dengan peraturan dan sanksi yang tegas serta program-program mendukung, diharapkan angka pemberian ASI dapat ditingkatkan dari kondisi sekarang. Menurut hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002-2003, didapati data jumlah pemberian ASI eksklusif pada bayi di bawah usia dua bulan hanya mencakup 64% dari total bayi yang ada. Persentase tersebut menurun seiring dengan bertambahnya usia bayi. Yakni, 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14% pada bayi usia 4-5%. Yang lebih memprihatinkan, 13% bayi di bawah dua bulan telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3 bulan telah diberi makanan tambahan. (Nik/H-4)
Sumber: Media Indonesia Online, Rabu, 03 Agustus 2005 (Kesehatan Reproduksi)

Minggu, 27 Januari 2008

Teknik Bertanya Mengasah Kreativitas Anak

Agar si kecil semakin terasah kemampuan kreativitasnya, Anda perlu memberikan rangsangan-rangsangan yang dapat mengasah kemampuan ini. Salah satunya dengan memberikan berbagai pertanyaan-pertanyaan yang dapat mengembangkan kreativitasnya. Berkut ini beberapa tekhnik bertanya yang dapat memacu kemampuan kreativitas bila si kecil berumur 5 tahun.

  • Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya meminta penjelaan atau memberi label, serta mendemonstrasikannya. Misalnya, 'Daun warnanya apa saja?", atau "Bagaimana macam-macam bunyi kucing yang Ade pernah dengar?".
  • Ajak anak Anda memikirkan berbagai penyelesaian gambar atau cerita yang sudah dimulai. Misalnya, "Kalau orang tidak punya rambut, maka….." Anda dapat meminta anak mencari jawaban sebanyak-banyaknya.
  • Mencari penggunaan baru dari benda sehari-hari. Misalnya, "Selain untuk membuat rumah, batu bata bisa dipergunakan untuk apa lagi ya…?"

Jumat, 25 Januari 2008

Berbagai Pendapat Aliran Kalam Dalam Islam

( Oleh : Lukman Hakim )
KONSEP IMAN

Mu'tazilah : Iman lebih dari tasdiq yaitu ma'rifah dan amal. Hubungan amal dan iman yaitu : syarat amal diterima harus dengan iman. Muh. Abduh : Iman adalah ilmu (pengetahuan), I'tiqod (kepercayaan) dan yaqin. Jadi Iman adalah pengetahuan sebenarnya yang diperoleh lewat akal dengan argumen-argumen kuat yang membawa jiwa sesorang untuk tunduk.Iman khowas : Tasdiq dan Iman (iman khaqiqi) dan hanya golongan ini yang sanggup mengetahui tuhan dan alam ghoib.Iman awam : iman taqlid.

AKAL DAN WAHYU

Mu'tazilah : Segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantaraan akal dan kewajiban-kewajiban seperti mengetahui Tuhan, kewajiban mengetahui Tuhan, mengetahui baik dan jahat dan kewajiban mengetahui baik dan jahat dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunnya wahyu wajib. Abu Huzel : Sebelum turunnya wahyu orang telah berkewajiban mengetahui Tuhan, baik dan jahat dapat diketahui dengan akal sehingga orang wajib mengerjakan baik dan menjauhi yang jahat dan jika ia tidak berterima kasih kepada Tuhan berdosa.Asy'ariyah : Segala kewajiban manusia hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tidak dapat mengetahui mengerjakan baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia. Akal hanya dapat dipakai untuk memperoleh pengetahuan dan mengetahui Tuhan.Al-Baghdadi : Akal dapat mengetahui Tuhan tetapi tidak dapat mengetahui kewajiban berterima kasih kepada Tuhan karena segala kewajiban hanya dapat diketahui melalui wahyu. Oleh karena itu sebelum turun wahyu tidak ada kewajiban-kewajiban dan larangan-larangan.Al-Ghozali : Mengenai baik dan jahat menerangkan bahwa : sesuatu perbuatan disebut baik, kalau perbuatan itu sesuai dengan tujuan pembuat. Keadaan sesuai atau tidak sesuai dengan tujuan bisa terjadi pada masa sekarang dan masa mendatang (akherat).Muh. Abduh : Akal tidak dapat menentukan baik dan buruknya suatu perbuatan.

FUNGSI WAHYU
Mu'tazilah : Sebagai konfirmasi dan informasi. Contoh : Akal hanya dapat mengetahui kewajiban-kewajiban secara global sedangkan perinciannya lewat wahyu, wahyu juga menyempurnakan pengetahuan akal tentang baik dan buruk, perincian hukuman dan upah yang akan diterima manusia di akheratAsy'ariyah : Karena akal hanya dapat mengetahui adanya Tuhan saja maka wahyu berfungsi banyak sekali dan dapat menentukan segala hal. Contoh : jika wahyu tidak ada manusia bebas berbuat sekehendaknya, sebagai akibatnya masyarakat berada dalam kekacauan. Oleh karena itu pengiriman para Rosul seharusnya merupakan suatu kemestian dan bukan jaiz.Kesimpulan : Bertambah besar fungsi yang diberikan kepada wahyu dalam suatu aliran, bertambah kecil daya akal dalam aliran itu. Sebaliknya bertambah sedikit fungsi yang diberikan kepada wahyu dalam suatu aliran bertambah besar daya akal dalam aliran itu.

KEADILAN TUHAN
Mu'tazilah : Wujud ini diciptakan untuk manusia sebagai makhluk tertinggi dan kata-kata Tuhan adil mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik, tidak dapat berbuat yang buruk dan tidak dapat mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap manusia. Keadilan juga mengandung arti berbuat menurut semestinya serta sesuai dengan kepentingan manusia dan memberi upah atau hukuman kepada manusia sesuai dengan corak perbuatannya. Jadi keadilan faham Mu'tazilah adalah keadilan raja konstutusionil yang kekuasaannya dibatasi oleh hukum meskipun hukum itu adalah perbuatannya sendiri. Jadi jelas bahwa mereka mempunyai kecenderungan untuk melihat segala-galanya dari sudut kepentingan manusia.Asy'ariyah : Tuhan berbuat semata-mata karena kekuasaan dan kehendak mutlak-Nya bukan karena kepentingan manusia. Dan keadilan Tuhan mengandung arti bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak terhadap makhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya. Jadi keadilan faham Asy'ariyah adalah keadilan raja absolut yang memberi hukuman menurut kehendak mtlak-Nya, tidak terikat pada suatu kekuasaan kecuali kekuasaan-Nya sendiri. Jadi Asy'ariyah melihat segala-galanya dari sudut pandang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan.Al-Gozali : Ketidakadilan dapat timbul hanya jika seseorang melanggar hak orang lain dan jika sesorang harus berbuat sesuai dengan perintah dan kemudian melanggar perintah itu maka perintah yang demikian tidak ada pada Tuhan.

PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN
Kewajiban-kewajiban Tuhan terhadap manusia. Mu'tazilah : Tuhan punya kewajiban-kewajiban terhadap manusia. Contoh : menepati janji-janji-Nya, mengirim Rosul, memberi rizki pada manusia dan sebagainya. Hal ini timbul sebagai akibat dari konsep Mu'tazilah tentang keadilan Tuhan. Asy'ariyah : Tuhan tidak punya kewajiban-kewajiban terhadap manusia karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan.
Berbuat baik dan terbaik. Mu'tazilah : Wajib. Asy'ariyah : Tidak karena Tuhan berkehendak dan berkuasa mutlak.
Beban di luar kemampuan manusia. Mu'tazilah : Tidak boleh karena manusia mempunyai kekuatan terbatas. Asy'ariyah : Boleh karena Tuhan berkuasa mutlak dan daya manusia diwujudkan oleh daya Tuhan yang tidak terbatas.
Pengiriman Rosul. Mu'tazilah : Wajib karena keadaan akal tidak dapat mengetahui segala apa yang harus diketahui tentang Tuhan dan alam ghoib. Asy'ariyah : Tidak wajib, karena Tuhan tidak punya kewajiban apa-apa terhadap manusia.
Janji dan Ancaman. Mu'tazilah : Wajib dilaksanakan karena merupakan keadilan Tuhan. Asy'ariyah : Tidak wajib, karena Tuhan punya kuasa dan kehendak mutlak.

SIFAT-SIFAT TUHAN
Tuhan mempunyai sifat. Abu Huzel : Tuhan mengetahui, berkuasa dan sebagainya bukanlah sifat dalam arti kata sebenarnya. Arti Tuhan mengetahui adalah Tuhan mengetahui dengan perantara pengetahuan, dan pengetahuan itu adalah Tuhan sendiri yaitu zat/esensi Tuhan. Al-Jubba'i : Untuk mengetahui Tuhan tidak butuh kepada suatu sifat dalam bentuk pengetahuan atau keadaan mengetahui. Asy'ariyah Al-Baghdadi : Terdapat konsensus di kalangan Asy'ariyah bahwa daya, pengetahuan, hayat, kemauan, pendengaran, penglihatan dan sabda Tuhan adalah kekal. Hal ini membawa faham banyak yang kekal, untuk mengatasinya sifat mengandung arti tetap dan kekal, sedang keadaan mengandung arti berubah. Maturidiyah Bukhara : Sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan dan bukan melalui kekekalan sifat-sifat itu sendiri.
Anthropomorphisme. Mu'tazilah : Tuhan tidak dapat mempunyai badan materi dan tidak mempunyai sifat-sifat jasmani. Jika Tuhan punya sifat-sifat jasmani harus diinterpretasi lain. Contoh : Al-Arsy adalah kekuasaan, Al-'Ain adalah pengetahuan, Al-Wajh adalah esensi, Al-Yad adalah kekuasaan. Asy'ariyah : Tuhan mempunyai sifat-sifat jasmani seperti yang disebut dalam Al-Qur'an yaitu punya mata, telinga, muka, tangan dan sebagainya tetapi dengan tidak diketahui bagaimana bentuknya. Manusia tidak dapat mengetahuinya karena Tuhan maha kuasa dan dapat punya bahkan menciptakan hal-hal yang tak dapat diselami akal manusia yang lemah. Maturidiyah Bukhara : Tangan Tuhan sifat bukan anggota badan Tuhan begitu juga pengetahuan, daya dan kemauan. Samarkand : Tangan, muka dan kaki adalah kekuasaan Tuhan.
Melihat Tuhan. Mu'tazilah : Tuhan tak mengambil tempat dan dengan demikian tak dapat dilihat, karena yang dapat dilihat hanyalah yang mengambil tempat (QS. Al-An'am : 104). Asy'ariyah : Yang tidak dapat dilihat hanyalah yang tak mempunyai wujud dan yang berwujud mesti dapat dilihat, karena Tuhan berwujud maka dapat dilihat (QS. Al-Qiyamah : 22).
Sabda Tuhan. Mu'tazilah : Sabda buikanlah sifat tapi perbuatan Tuhan. Dengan demikian Al-Qur'an tidak bersifat kekal tapi bersifat baru dan diciptakan Tuhan yang tersusun dari bagian-bagian berupa ayat dan surat. Asy'ariyah : Sabda adalah sifat dan sebagai sifat Tuhan mestilah kekal. Sabda juga bermakna abstrak dan tidak tersusun dari huruf dan suara. Sabda yang tersusun dalam arti kiasan sedang sabda yang sebenarnya apa yang terletak dibalik yang tersusun (QS. An-Nahl : 40)

FREE WILL AND PREDESTINATION
Al-Jubba'i : manusialah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya, manusia berbuat baik dan buruk, patuh dan tidak patuh pada Tuhan atas kehendak dan kemauannya sendiri dan daya untuk mewujudkan kehendak sudah ada pada diri manusia sebelum adanya perbuatan.Mu'tazilah : Kemauan dan daya untuk mewujudkan perbuatan manusia adalah kemauan dan daya manusia sendiri dan Tuhan tidak turut campur tangan di dalamnya.Al-Ghozali : Pendapat Mu'tazilah bertentangan dengan ijma/konsensus alim ulama tentang tidak adanya pencipta kecuali Alloh.Asy'ariyah : Untuk menggambarkan hubungan perbuatan manusia dengan daya dan kehendak Tuhan memakai kata al-kasb yaitu sesuatu yang timbul dari al-muktasib dengan perantaraan daya yang diciptakan. Kemudian perbuatan involunter adalah perbuatan di luar kemauan manusia contoh : menggigil. Persamaan al-kasb dan involunter : Perbuatan-perbuatan Tuhan mengambil tempat dalam diri manusia. Perbedaannya : Dalam involunter manusia terpaksa melakukan sesuatu yang tidak dapat dielakannya walau bagaimanapun ia berusaha, sedang al-kasb paksaan yang demikian tidak terdapat